Jumat, 28 Februari 2014

Postmodernism

Sebenernya gua ngebahas soal "postmodernism" ini karena dapet referensi buku dari dosen.
bukunya klo gak salah "The Troubles with Postmodernism" - Steven Morawski. Dan berhubung gua gak ngerti apa itu postmodernism, jadi marilah kita bahas sedikit tentang postmodernism :)




Postmodernisme
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9a/Mauer-betlehem.jpg/300px-Mauer-betlehem.jpg
http://bits.wikimedia.org/static-1.23wmf11/skins/common/images/magnify-clip.png
salah satu lukisan Banksydi Sungai Barat tembok Israel(2005), John Watkins Chapman mengibaratkan Postmodernisme sebagai lukisan yang melampaui gaya impresionisme dari Prancis.
Postmodernisme adalah gerakan abad akhir ke-20 dalam seni, arsitektur, dan kritik itu adalah keberangkatan dari modernisme[1][2]. Postmodernisme termasuk interpretasi skeptis terhadap budaya, sastra, seni, filsafat, sejarah, ekonomi, arsitektur, fiksi, dan kritik sastra. Hal ini sering dikaitkan dengan dekonstruksi dan pasca-strukturalisme karena penggunaannya sebagai istilah mendapatkan popularitas yang signifikan pada waktu yang sama sebagai abad kedua puluh dalam pemikiran post-struktural.
Postmodernisme adalah faham yang berkembang setelah era modern dengan modernisme-nya. [3] Postmodernisme bukanlah faham tunggal sebuah teori, namun justru menghargai teori-teori yang bertebaran dan sulit dicari titik temu yang tunggal.[3] Banyak tokoh-tokoh yang memberikan arti postmodernisme sebagai kelanjutan dari modernisme.[3] Namun kelanjutan itu menjadi sangat beragam. Bagi Lyotard dan Geldner, modernisme adalah pemutusan secara total dari modernisme.[3] Bagi Derrida, Foucault dan Baudrillard, bentuk radikal dari kemodernan yang akhirnya bunuh diri karena sulit menyeragamkan teori-teori[3]. Bagi David Graffin, Postmodernisme adalah koreksi beberapa aspek dari moderinisme. Lalu bagi Giddens, itu adalah bentuk modernisme yang sudah sadar diri dan menjadi bijak.[3] Yang terakhir, bagi Habermas, merupakan satu tahap dari modernisme yang belum selesai.[3]

Etimologi
Berdasarkan asau usul kata, Post-modern-isme, berasal dari bahasa Inggris yang artinya faham (isme), yang berkembang setelah (post) modern.[3] Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 1930 pada bidang seni oleh Federico de Onis untuk menunjukkan reaksi dari moderninsme.[3] Kemudian pada bidang Sejarah oleh Toyn Bee dalam bukunya Study of History pada tahun 1947.[3] Setelah itu berkembanga dalam bidang-bidang lain dan mengusung kritik atas modernisme pada bidang-bidangnya sendiri-sendiri.[3]
Postmodernisme dibedakan dengan postmodernitas, jika postmodernisme lebih menunjuk pada konsep berpikir.[4] Sedangkan postmodernitas lebih menunjuk pada situasi dan tata sosial sosial produk teknologi informasi, globalisasi, fragmentasi gaya hidup, konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik, usangnya negara dan bangsa serta penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi.[4] Hal ini secara singkat sebenarnya ingin menghargai faktor lain (tradisi, spiritualitas) yang dihilangkan oleh rasionalisme, strukturalisme dan sekularisme.[4]
Setidaknya kita melihat dalam bidang kebudayaan yang diajukan Frederic Jameson, bahwa postmodernisme bukan kritik satu bidang saja, namun semua bidang yang termasuk dalam budaya.[3] Ciri pemikiran di era postmodern ini adalah pluralitas berpikir dihargai, setiap orang boleh berbicara dengan bebas sesuai pemikirannya.[3] Postmodernisme menolak arogansi dari setiap teori, sebab setiap teori punya tolak pikir masing-masing dan hal itu berguna.[3]

Gimana? masih gabut? saya juga sih :'(

Sabtu, 02 November 2013

Kelas Internasional Politeknik Negeri Jakarta


                Sebagai salah satu politeknik ternama di Indonesia PNJ (Politeknik negeri Jakarta) mempunyai visi yaitu “Menjadi Politeknik Unggul Berkelas Dunia Pada Tahun 2029”.
                        Tidak heran, jika sekarang mulai banyak berdiri kelas-kelas internasional di Politeknik Negeri Jakarta itu sendiri. Salah satunya adalah kelas internasional yang berada di gedung teknik grafika dan penerbitan (TGP).
             “Yang pertama kali berinisiatif mendirikan program tersebut ialah Ibu Yogi Widyawati, sebagai ketua Kantor Urusan Internasional, yang dibantu oleh Pak Amir sebagai sekretaris dan Pak Zulkarnaen sebagai administrasi. Beliau yang mengajukan PNJ untuk mengikuti program tersebut kepada Dikti”, Ujar sekertaris pudir IV Politeknik Negeri Jakarta, Siska di Gedung direktorat PNJ.
                “Kelas internasional ini sudah ada sejak awal tahun 2012”, kata salah satu dosen bahasa indonesia di kelas internasional, Drs. Amirudin,M.M di kampus PNJ, Juma’t (1/11).
                Lebih lanjut, Drs. Amirudin,M.M mengatakan bahwa kelas internasional ini ada hubungannya dengan visi misi PNJ. “iya tentulah kelas internasional ada hubungannya dengan visi misi PNJ. karena ini merupakan cikal bakal berstandar internasional. Berhubungan visi dan misi PNJ berorientasi internasional maka diadakan lah kelas internasional ini”, katanya.
                “Sejauh ini, kelas internasional di PNJ telah mampu menampung kurang lebih 20 pelajar asing per tahunnya. Para pelajar asing yang datang ke PNJ ini mempelajari bahasa Indonesia selama setahun, kemudian kembali lagi ke negara asalnya. Selama belajar di Indonesia mereka mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia sebesar 2 juta rupiah/ per bulan dan bebas uang semester”, jelas Drs. Amirudin,M.M.

Tujuan dari diadakannya program kelas Internasional ini
                “Agar membawa nama baik PNJ, semua kembali pada visi dan misi. Program ini terlaksana dengan tujuan  agar selepas mahasiswa Internasional kembali dari sini mereka akan mengenal seperti apa kehidupan di PNJ, dan ini akan menjadi jembatan bagi kampus untuk Go Internasional”, jelas sekertaris pudir IV Politeknik Negeri Jakarta, Siska.
                “Selain itu karena kita punya visi dan misi yang di tahun 2029 nanti kita menjadi kelas internasional, "world class" kita juga sudah mengirim beberapa pimpinan kita keluar negeri, pada tahun ini kita ke Myanmar. Pada tahun lalu ke Kamboja. Terus kita juga pernah ke Vietnam”, tambah pudir I politeknik negeri Jakarta.
Progam yang digunakan pada kelas internasional
                “Saat ini untuk  Darmasiswa ada program beasiswa 6 bulan dan 1 tahun . Sebelumnya   juga pada tahun 2012 kami pernah bekerja sama dengan MPIC yang melibatkan 25 siswa dari Kamboja. Mereka ditempatkan di jurusan Teknik Mesin dan Elektro untuk mengikuti program studi tersebut. Jadi PNJ sudah mengajar mahasiswa Internasional sekitar 3 periode.”, jelas sekertaris pudir IV Politeknik Negeri Jakarta, Siska.
Manfaat dari diadakannya program kelas internasional
                “Dengan diadakannya kelas internasional ini kita bisa saling mempelajari kebudayaan antar negara dan bisa saling berteraksi atau berkomunikasi”, jelas Drs. Amirudin ,M.M selaku dosen bahasa Indonesia di kelas internasional.
                Selain itu dengan adanya kelas internasional dapat membawa pengaruh positif untuk para mahasiswa non-internasional. “Nilai positifnya bagi mahasiswa PNJ non-Internasional adalah pengkoreksian bahasa Inggris mereka. Selain itu mereka juga mendapatkan referensi untuk meneruskan pendidikan ke jenjang S1, karena orang asing yang belajar bahasa Indonesia di sini  bukan berarti mereka belum kuliah, ada di antaranya yang sudah lulus S1.”, kata Siska selaku sekertaris pudir IV Politeknik Negeri Jakarta.
                Menurut Mana Nishino, salah satu pelajar asing asal jepang ini, menjelaskan bahwa keuntungan yang ia dapat dalam kelas internasional ini adalah mendapat banyak teman kuliah tidak hanya didalam PNJ tapi diluar PNJ pun juga, selain itu ia juga mendapat banyak kosa kata dari dosen dan dapat berbicara bahasa Indonesia.
                Pelajar asing yang berumur 20 tahun ini, selain belajar di kampus PNJ, ia juga mengikuti berbagai kegiatan sosial di sekitar lingkungan. Salah satunya adalah, ia turut mengajar bahasa jepang di sekolah-sekolah di sekitar tempat ia tinggal.

Kendala-kendala dalam pelaksanaan kelas internasional
                Menurut salah satu dosen di kelas internasional PNJ, Drs. Amirudin,M.M, kendala utama dalam pelaksanaan kelas internasional ini adalah sarana atau fasilitas masih belum memadai untuk kelas internasional dan dosennya kurang.
                Dan menurut salah satu pelajar asing , Mana Nishino,  kendalanya adalah buku. Ia mengalami kesulitan dalam memahami buku bahasa Indonesia.
                “Kendala nya sih teknis saja, contohnya pada saat mahasiswanya disana. Dia belum terbiasa dengan lingkungan disana”, jelas pudir I Politeknik Negeri Jakarta.

Fasilitas-fasilitas di kelas internasional
                Selain fasilitas beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Indonesia untuk kelas internasional ini, adapun fasilitas lainnya yang dapat ditemui dikelas internasional.
“Kita menyediakan beberapa komputer dan kita juga mempunyai kurikulum yang up to date”, jelas pudir I Politeknik Negeri Jakarta.

Tanggapan bagi mahasiswa non-internasional terhadap kelas internasional
                “Oh, menurut saya sih suatu perkembangan yang positif karena TGP sendiri juga jurusan baru, yang saya tahu 2 tahun kebelakang ada kelas internasional nya juga dijurusan lain. Tapi yang di TGP ini perkembangannya sangat positif”, jelas Syamsi salah satu mahasiswa semester 5 teknik grafika dan penerbitan (TGP).
“Ya dengan keberadaan mereka dan kelas internasional ini, kita bisa bergaul dengan mereka walau pun kendala yang kita hadapi dengan mereka itu bahasa. Tapi dengan itu kita bisa saling belajar satu sama lain”, jelas Syamsi.
                Ketika ditanya mengenai harapannya terhadap kelas internasional, syamsi pun menjawab,harapannya untuk saat ini semoga kelas internasional tetap ada di PNJ khususnya yang belajar digedung TGP dan kalau bisa mahasiswa dari luarnya makin banyak lagi. Itu aja sih”, katanya.

Harapan untuk kelas internasional ini kedepannya
                “Untuk kedepannya, saya harap kelas internasional punya gedung sendiri, mahasiswanya lebih banyak, dosennya lebih banyak, anggarannya juga lebih banyak”, kata Drs. Amirudin,M.M selaku dosen di kelas internasional.
                Dan bagi sekrektaris pudir IV, Siska, yang mengurusi bidang akademik, harapannya ialah agar pengelolaan program ini jauh lebih baik dan dapat terhandel, karena sekarang masalahnya adalah minimnya  tenaga pengelolaan. Harapan ke depannya ingin lebih banyak lagi yang berkontribusi dalam pelaksanaan program ini.
                Pudir I Politeknik Negeri Jakarta pun menjelaskan harapannya mengenai kelas internasional ini, “Ya tentunya saya berharap semua jurusan mempunya kelas internasional. Karena dengan banyaknya penduduk kita ini, kita sudah harus bisa kemana-mana”,jelasnya.